Sampai artikel ini saya tulis, serangan pasukan Israel ke Jalur Gaza telah berlangsung sekitar 16 hari atau dua mingguan lebih. Korbannya pun telah menembus angka 800 jiwa lebih, dan sebagian diantaranya adalah anak-anak yang tidak berdosa. Seluruh dunia, terutama umat muslim menyerukan kutukan terhadap aksi Israel yang membabi buta ini. PBB meskipun dengan tekanan dan absteinnya AS, juga telah menerbitkan resolusi tentang penarikan mundur tentara Israel dari jalur gaza. PBB memilih presiden Mesir Husni Mubarak sebagai mediator perdamaian antara Gaza dengan Israel. Namun Resolusi itupun ditolak mentah-mentah oleh pemerintah Israel dengan juru bicaranya, Menteri Luar Negeri Tzipi Livni. Nama terakhir ini (bagi saya) merupakan seorang wanita terkejam di dunia, melebihi Magdalena Goebbels, istri Joseph Goebbels yang terga membunuh enam anaknya sekaligus dengan racun Sianida setelah sebelumnya disuntik Morfin oleh dokter dari SS.
Sementara itu, seruan boikot terhadap produk-produk yahudi dan sekutunya AS terus bermunculan di kalangan umat islam, seperti di Aljazair, Maroko, Indonesia, Brunei Darussalam, Jordania, & Malaysia. Mahathir Muhammad, mantan perdana menteri Malaysia bahkan mengajukan seruan yang lebih ekstrim lagi, yaitu pemboikotan terhadap mata uang AS yaitu Dollar. Lantas, haruskah kita memboikot mereka? Jawabannya bisa iya, mungkin bisa juga tidak. Jawaban ini sangat kental nuansa politisnya dan bisa menimbulkan guncangan ekonomi yang cukup dahsyat bila memang terjadi dan sukses. Saya akan coba mengilustrasikan, bagaimana jika boikot itu dilakukan oleh umat muslim (saya ambil contoh kasus di Indonesia) dan umat muslim secara konsisten melakukannya.
Strategi Jangka Pendek
Boikot ini, bagi saya tidak lebih dari sebuah bentuk kecaman dunia internasional terhadap aksi Israel. Itu saja. Saya sendiri tidak melihat boikot ini sebagai strategi yang baik pada jangka pendek. Sejujurnya, secara prinsip hidup, saya bukan orang yang berprinsip bahwa lebih baik melakukan sedikit dari pada tidak melakukan sama sekali. Saya lebih berprinsip, lebih baik tidak melakukan sama sekali, jika kita tidak melakukan hal-hal yang besar. Tapi saya pribadi tidak menyalahkan seruan boikot tersebut meskipun terkesan memaksakan diri. Namun paling tidak, ada dua keuntungan utama yang mungkin diraih karena boikot tersebut, yaitu :
- Adanya semangat mencintai produk dalam negeri, hal ini positif untuk perekonomian nasional.
- Adanya korps muslim yang semakin kuat, karena rasa solidaritas yang tinggi terhadap “saudara” mereka yang tertindas di Palestina.
Resiko Jangka Panjang
Saya tidak tahu berapa persisnya perusahaan-perusahaan tersebut berperan bagi GDP Indonesia yang memang sebagian besar (sekitar 70%) berasal dari segi konsumsi, namun saya perkirakan sekitar 40-60%. Asumsikan bahwa pemboikotan itu memang benar-benar dilakukan oleh sekitar 50% saja dari seluruh warga muslim di Indonesia. Otomatis, perusahaan-perusahaan besar tersebut akan kolaps karena tidak adanya nilai penjualan yang akan mereka dapatkan di Indonesia. Setelah itu, dalam kondisi ekstrim, perusahaan akan bangkrut dan “terpaksa” merumahkan para karyawannya yang notabene kebanyakan orang Indonesia dan muslim. Dengan demikian, sebuah ungkapan bahwa “Dengan boikot, anda mungkin akan mempertahankan satu nyawa umat muslim di Palestina, tapi juga harus di bayar dengan penderitaan berupa pengangguran umat muslim di Indonesia.” bisa di rasa benar.
Saya sebenarnya pernah mendiskusikan hal ini dengan teman-teman di kampus yang sangat pro terhadap boikot. Mereka mengatakan bahwa jika perusahaan yahudi tersebut ambruk, maka perusahaan alin akan lebih besar dan memerlukan tenaga kerja yang lebih banyak. Sebagai contoh adalah Nokia, jika memang Nokia yang diklaim sebagai perusahaan yang membantu zionis yahudi tersebut memang bangkrut, maka Samsung sebagai pesaing akan membesar, dan pada akhirnya akan merekrut tenaga-tenaga kerja yang “dirumahkan” oleh pihak Nokia tadi. Hal itu bisa saja benar, tentu dengan simpifikasi tingkat tinggi.
Namun jika kita berpikir konspiratif, mungkinkah kebangkrutan ini dimanfaatkan oleh pihak ketiga (dalam hal ini pihak netral seperti Samsung dkk)? Jawaban saya adalah iya, karena dengan adanya perang, pihak ketiga justru sangat diuntungkan sehingga timbul sebuah potensi bahwa mereka pun akan berupaya dengan segala macam cara untuk mempertahankan kondisi perang ini. Semakin banyak seruan boikot, semakin diuntungkan mereka. Sejujurnya, saya tidak melihat dukungan AS terhadap Israel itu murni karena mereka “bersahabat” dengan Israel pada perang Israel-Palestina, namun pasti ada motif ekonomi dibalik semua itu. Pun jika Palestina musnah karena perang tersebut, maka AS memungkinkan mencari “ladang bisnis” baru. Nah, itu adalah resiko besar terhadap boikot dari sisi industri dalam jangka panjang.
Follow up aksi boikot
Sebenarnya, inti permasalahan utama dalam kekalahan Palestina dan Israel ini adalah kekalahan negara Islam sebagai negara tertinggal terhadap Yahudi yang notabene jauh lebih maju. Maka dari itu, Israel juga tidak bodoh menyikapi isu boikot ini. Mereka tahu, tingkat kebencian umat islam terhadap mereka, seperti di Indonesia dan negara-negara lainnya, tidak lebih besar dari pada tingkat ketergantungannya pada produk-produk mereka. Hal ini dibuktikan dengan sebuah contoh kecil bahwa produk-produk di bawah ini masih sangat sulit ditemukan barang substitusinya.

Nah, maka dari itu, sebenarnya jika dicermati secara positif dan obyektif, hal ini merupakan sebuah cambuk untuk kebangkitan orang islam. Seharusnya, mereka yang menyuarakan boikot ini tak hanya sekedar memboikot saja, tetapi juga harus menyiapkan barang substitusi yang lebih berkualitas dari produk yang diklaim sebagai produk yahudi.
Boikot Sebisanya
Beberapa rekan saya juga sepakat, bahwa nilai ketergantungan orang islam di Indonesia terhadap prosuk-produk yahudi juga jauh lebih besar daripada nilai kebenciannya. Maka dari itu, ketergantungan ini berusaha dikikis. Mereka juga sadar, adalah tidak mungkin memboikot seluruh produk-produk yahudi. Maka dari itu, mereka menyarankan kalau bisa memilih yang non-yahudi, kenapa tidak? Jika tidak bisa, ya pakai saja. Itu juga benar.
Lantas, bagaimana dengan saya? Saya pribadi bersikap lebih netral soal boikot ini karena bagi saya boikot ini hanya tak lebih dari sebuah gertak sambal seorang yang putus asa. Saya lebih suka menggunakan prinsip umum Restorasi Meiji ketika Jepang ketinggalan jauh di abad 18 oleh dunia barat dengan belajar dan belajar hingga suatu hari nanti, saya bisa sehebat orang-orang yahudi yang juga menjadi guru besar saya dan saya bisa membangun negeri kita tercinta yang senantiasa selalu tertinggal ini (halah…)
Salam,
Foto dicomot dari mana-mana tanpa ijin.
