Archive for the ‘Sepakbola’ Category

Keajaiban & Elegi di Euro 2008 (Part 2)

June 27, 2008
Siapapun mungkin setuju jika saya mengatakan Euro 2008 ini adalah yang terbaik sepanjang sejarah jika dilihat dari kualitas pertandingannya. Kejutan demi kejutan bermunculan seiring dengan elegi yang dinyanyikan oleh sejumlah tim besar. kata-kata “never say die” pun seolah menjadi semboyan pada Euro kali ini. Dan slogan mereka, “expect emotion” berhasil tertancap dengan baik, meski bukan dari kualitas penyelenggaranya, melainkan dari kualitas pesertanya.

Turnamen empat tahunan ini telah memunculkan dua kekuatan tradisional eropa yaitu Jerman dan Spanyol di babak final yang akan berlangsung tanggal 29 Juni besok di Ernst Happel Stadium, Vienna, Austria. Hal ini menarik mengingat kedua tim ini sebelumnya memiliki reputasi yang bertolak belakang. Der Panzer Jerman dengan julukan tim spesialis turnamen dan La Furia Roja Spanyol dengan julukan tim spesialis kualifikasi! (Prediksi Selengkapnya…)

“Kembali ke laptop…” (Minjam istilah Mas Tukul)

Bagi saya, Euro 2008 ini adalah turnamen yang paling berkesan karena menyajikan ketegangan yang deras dan berkelok-kelok seperti halnya alur cerita Digital Fortress yang dikarang oleh Dan Brown. Saya akan coba memberikan kesimpulan mengenai peserta Euro 2008 dan jalannya turnamen.

Sembilan menit emas milik Turki

Pertama, saya (dan tentu anda) sangat terkesima dengan performa tim Turki yang dikomandoi oleh seorang tactician hebat bernama Fatih Terim. Bagi saya, Turki adalah tim yang paling menghibur di Euro 2008 ini, selain pantang menyerah, dua pertandingannya yaitu melawan Republik Ceska dan Jerman di semifinal adalah pertandingan terbaik di Euro 2008 (setidaknya sebelum partai final). That’s it, mereka selalu berhasil membalikkan keadaan setelah tertinggal lebih dahulu di menit-menit terakhir. Mereka benar-benar memberi inspirasi tentang kata-kata “you can do it!!” Bayangkan saja, semifinalis Euro 2008 ini jika ditotal hanya mampu unggul dalam tempo 9 menit saja, yaitu satu menit ketika melawan Swiss, 3 menit ketika melawan Ceska, dan 4 menit saat melawan Jerman. Empat tokoh menjadi sorotan saya dalam permainan mereka.

Pertama tentu saja kapten Nihat Kahveci. Ia adalah seorang kapten yang sangat baik dan pandai memotivasi rekannya (hal yang tidak dimiliki Thierry Henry di Prancis). Terlihat ketika melawan Ceska saat Kazim Kazim bermain buruk, dia lah yang men”encourage” rekannya itu.

Kedua dan juga ketiga adalah Hamit Altintop dan Arda Turan. Mereka adalah inspirator permainan Turki yang begitu meraja lela di lapangan tengah. Altintop mencatat dua assist ketika Turki mengirim pulang Ceska dengan skor 3-2. Sementara Arda, selain dia mencetak gol balasan pertama ke gawang Petr Cech, dia adalah pahlawan Turki dengan gol telatnya melawan tuan rumah Swiss yang menyebabkan Turki menang 2-1.

Keempat tentunya adalah sang bos Fatih Terim. Masih terngiang di benak saya ketika Terim membawa Galatasaray menjuarai Piala UEFA di tahun 2000 lalu dengan menaklukkan Arsenal di partai puncak dengan adu penalti. Setelah itu, ia menangani la viola Fiorentina. Dia adalah seorang motivator yang handal dan tak pernah panik meskipun kondisinya terjepit.

Keempat tokoh itulah yang bersinergi untuk membawa Turki menjadi Raja comeback di Euro 2008 bersama pemain lain. Sebenarnya, Euro 2004 lalu, Ceska juga melakukan hal yang sama ketika selalu tertinggal di tiga pertandingan penyisihan grup, setelah itu balik memenangkan pertandingan. Kala itu, Ceska masih diperkuat pemain senior Pavel Nedved. Tapi Turki lebih luar biasa karena mereka bisa melangkah sejauh ini dengan kondisi pemain cedera yang banyak disertai hukuman akumulasi kartu. Dunia pasti selalu mengenangnya.

“Pengkhianatan” Guus Hiddink

Anda semua tentu sangat familiar dengan tokoh ini bukan? Tokoh yang membawa Korea Selatan menjadi semifinalis Piala Dunia 2002 dengan menyingkirkan Italia dan Spanyol. Hiddink memang telah menjelma sebagai “dewa” bagi negeri-negeri sepakbola medioker. Australia pun sempat dibawanya ke 16 besar Piala Dunia 2006, sebelum dihentikan penalti kontroversial Fransesco Totti di menit 93.

Kali ini Guus Hiddink memimpin Rusia menuju medan laga. Hiddink memang sedikit beruntung, bayangkan, jika saja Inggris tidak “ble’e” dan takluk di tangan Kroasia di akhir kualifikasi November kemarin, pasukan beruang merah tersebut takkan sampai ke Austria-Swiss.

Hiddink mengawali laganya dengan kekalahan telak 1-4 dari Spanyol yang secara materi memang diatas mereka. Namun setalah itu, berturut-turut Rusia menaklukkan juara bertahan Yunani dan Swedia. Nama Andrea Arshavin pun meroket di partai ketiga penyisihan grup ketika ia mencetak gol kedua ke gawang Andreas Isaksson.

Penampilan Hiddink dan pasukannya memuncak ketika berhasil mendepak tim favorit Belanda di perempat final dengan skor 3-1. Jujur, saya sendiri kaget melihat dahsyatnya performa Rusia kala itu, terutama Arshavin, Denis Kolodin, dan Roman Pavlyuchenko. Tapi yang lebih dahsyat adalah sebuah fakta bahwa tim oranje disingkirkan oleh sebuah tim yang diarsiteki seorang meneer Belanda dengan cara yang biasa dilakukan oleh Belanda ketika bermain di semifinal!

“Sebuah pengkhianatan yang sempurna.” Begitulah tulisan media setempat tentang kemenangan Hiddink. Tapi sayang, anak asuhannya menjadi anti klimaks di semifinal kemarin ketika mereka kembali diacak-acak oleh tim matador Spanyol dengan skor telak 0-3.

Visi cerdas der panzer dan tarian indah ala oranje

Euro kali ini juga memperlihatkan sebuah pertunjukkan menarik dari mantan juara Euro beberapa edisi sebelumnya yaitu Jerman dan Belanda. Jerman, tim ini mengawali laganya dengan mengkhawatirkan. Menang dengan permainan buruk melawan Polandia, kalah dari Kroasia dan menang tipis dari tuan rumah Austria lewat tendangan bebas Michael Ballack.

Tiga pertandingan itu (terutama dua terakhir), bagi saya tidaklah menunjukkan kualitas der panzer yang sebenarnya. Melainkan menunjukkan keras kepalanya Joachim Loew dalam memaksa salah satu striker terburuk di kejuaraan ini yaitu Mario Gomez untuk menjadi starter. Bahkan seorang Bastian Schweinsteiger dicadangkan dan perannya diambil alih oleh Clement Fritz, yang notabene berposisi asli sebagai bek sayap kanan

Perubahan mulai terjadi di babak perempat final ketika mereka menaklukkan Portugal yang berpenampilan lebih baik di penyisihan grup. Nama Schweinsteiger muncul ke permukaan seolah “meluluhkan” keras kepala-nya Loew dalam memakai 4-4-2 dengan Mario Gomez-nya. Pola 4-2-3-1 diterapkan dengan sangat baik kala itu. Dan visi bermainlah yang memenangkan mereka dalam duel melawan seleccao yang ditangani calon pelatih Chelsea, Luis Felipe Scolari.

Selain itu, mental panser mereka terbukti di babak semifinal, keunggulan 2-1 lewat gol Miroslav Klose di menit 79 memang gagal dipertahankan ketika 7 menit kemudian, Semih Senturk membobol jala Jens Lehmann. Namun akhirnya mereka menghukum Turki dengan “gol telat” Phillip Lahm di menit 93. Jerman memang layak ke final.

Lantas bagaimana Belanda? Semua penggemar sepak bola di dunia menganggap mereka lah yang paling pantas juara, setidaknya sebelum partai perempat final melawan Rusia. Prestasi menggebuk dua finalis Piala Dunia 2006 dengan marjin tiga gol bukanlah sebuah prestasi sembarangan. Selain itu, mereka meraihnya dengan permainan yang indah dan memukau ketika seni bertahan yang baik digabungkan dengan serangan balik cepat dan visi permainan yang luar biasa dari Wesley Sneijder dan Rafael Van Der Vaart. Gol-gol mereka tercipta dengan indah. Terutama dua gol Sneijder dan gol Arjen Robben ke gawang Gregory Coupet. Segalanya benar-benar menghilangkan stigma yang dituduhkan oleh pelatih Argentina Alfaro Basile jika sepakbola Eropa adalah pragmatis, mementingkan taktik dan mengesampingkan keindahan. Namun sayang, perjalanan indah mereka kali ini harus dihentikan oleh Guus Hiddink, yang notabene orang Belanda! Sungguh Ironis.

Itu adalah sebagian kecil dari kisah keajaiban-keajaiban seputar Euro 2008. Bagaimana tentang kisah-kisah sedih dan prediksi partai final? Semua itu akan hadir di artikel berikutnya. Namun singkatnya, saya masih mengunggulkan Jerman untuk mengulang kejayaan 12 tahun yang lalu.

Salam…

Road to Final Euro 2008

June 18, 2008
Firstly I wanna say: selamat kepada tifosi azzuri atas tiketnya ke 8 besar. Italia memang pantas lolos karena memang lebih baik dari Prancis maupun Rumania, “The Ble’e Team”. Saya nggak membahas lebih dalam lagi mengenai lolosnya Italia, karena saya yakin, sohib saya yang mengklaim dirinya mencintai tim azzuri sampai mati sebentar lagi akan “mengebom” friendster dengan buletin board-nya. Disini kita akan coba berandai-andai tentang semifinal.

var curDiv = document.getElementById(‘ln0′); curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML); var links = curDiv.getElementsByTagName(‘a’); for(var i = links.length; i >= 0; –i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; } var curDiv = document.getElementById(‘ln1′); curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML); var links = curDiv.getElementsByTagName(‘a’); for(var i = links.length; i >= 0; –i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
Here we go, kita mulai dari pertandingan malam nanti untuk memperebutkan satu tiket sisa ke babak 8 besar antara Swedia dan Rusia. Menurut saya, Swedia masih lebih unggul dari Rusia, baik dari sisi kualitas pemain maupun pengalaman. Kemenangan Rusia atas Yunani kemarin memang bisa dijadikan modal, tapi dalam pertandingan malam ini, Rusia yang hanya bermodal semangat akan menyerah tipis dari Swedia.

var curDiv = document.getElementById(‘ln2′); curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML); var links = curDiv.getElementsByTagName(‘a’); for(var i = links.length; i >= 0; –i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; } var curDiv = document.getElementById(‘ln3′); curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML); var links = curDiv.getElementsByTagName(‘a’); for(var i = links.length; i >= 0; –i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
Partai 8 Besar pertama akan mempertemukan runner-up Euro’04 Portugal melawan Juara Euro 96 Jerman. Menurut saya, Portugal, meskipun penampilannya tak terlalu istimewa, masih memiliki peluang yang lebih besar untuk memenangi pertandingan. Sedikitnya dengan marjin dua gol. Mereka memiliki pertahanan yang cukup solid dan lini tengah yang lebih “bergoyang”. Hal ini bisa menutup lini depan yang “tidak berkelas”. Sementara Jerman? Ok, Jerman sempre Jerman. Mereka adalah ras bangsa Arya yang sangat yakin dengan kemampuannya dan selalu bermental baja. Namun absennya Bastian Schweinsteiger lantaran kartu merah serta keras kepalanya Joachim Loew dalam memasang salah satu striker terburuk di Euro 2008 ini yaitu Mario Gomes, bisa jadi kendala. Portugal semakin berkibar!

var curDiv = document.getElementById(‘ln4′); curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML); var links = curDiv.getElementsByTagName(‘a’); for(var i = links.length; i >= 0; –i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; } var curDiv = document.getElementById(‘ln5′); curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML); var links = curDiv.getElementsByTagName(‘a’); for(var i = links.length; i >= 0; –i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
Setelah itu, kita akan bicara mengenai Kroasia dan Turki. Ini adalah sebuah prediksi yang sangat sulit mengingat dua tim ini penuh kejutan. Lini belakang Turki akan mendapatkan ujian cukup berat dengan absennya Demirel Volkan, lantaran kartu merah tidak penting melawan Ceska. Satu kelebihan Turki adalah semangat pantang menyerahnya yang selalu membuat mereka melakukan comeback dahsyat di babak penyisihan. Lini tengah Turki akan sangat solid dan kemungkinan merekalah yang mengambil inisiatif serangan. Sementar Kroasia, tim besutan Slaven Bilic ini memang bagus di putaran grup, bahkan mereka mampu menaklukkan Jerman, tim favorit juara. Kekuatan mereka kali ini akan muncul dalam strategi bertahan yang alot. Dalam tiga pertandingan, baru Lukas Podolski yang sanggup membobol pertahanan mereka. Pertandingan bakal berakhir seri sampai level adu tendangan penalti. Dan untuk urusan yang satu ini, Kroasia lebih baik dari Turki. Kroasia melenggang mulus!

var curDiv = document.getElementById(‘ln6′); curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML); var links = curDiv.getElementsByTagName(‘a’); for(var i = links.length; i >= 0; –i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; } var curDiv = document.getElementById(‘ln7′); curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML); var links = curDiv.getElementsByTagName(‘a’); for(var i = links.length; i >= 0; –i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
Partai ketiga mempertemukan tim yang sedang hot-hotnya, Belanda melawan jagoan Skandinavia yaitu Swedia. Well, mungkin saya selaras dengan prediksi sebagian besar masyarakat dunia bahwa Belanda masih unggul segala-galanya atas Swedia. paling tidak mereka akan menang tipis dengan selisih satu gol. Swedia tak terlalu istimewa di putaran grup, meski nyaris menahan imbang Spanyol. Namun, mereka memiliki determinasi kuat yang sering “nyusahin” tim-tim unggulan. Tapi sayang, Belanda terlalu superior untuk mereka taklukkan. Belanda melaju ke semifinal!

var curDiv = document.getElementById(‘ln8′); curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML); var links = curDiv.getElementsByTagName(‘a’); for(var i = links.length; i >= 0; –i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; } var curDiv = document.getElementById(‘ln9′); curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML); var links = curDiv.getElementsByTagName(‘a’); for(var i = links.length; i >= 0; –i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
Partai terakhir adalah Italia bertemu Spanyol. Spanyol memiliki materi pemain yang diatas kertas lebih baik dari Italia. Namun seperti biasa, mereka belum memiliki mental hebat. Spanyol seringkali tidak konsisten dalam penampilannya. Mereka hebat melawan tim medioker, namun loyo melawan tim besar. Italia? well, menurut saya mereka masih akan bermasalah di lini belakang yang rapuh. Duet striker Spanyol terlalu ampuh untuk mereka, meskipun duet maut itu takkan mencetak gol banyak ke gawang Gianlugi Buffon. Terlebih, absennya kreator serangan Andrea Pirlo dan si badak Gennaro Gattuso akan memperlemah lini tengah Italia yang kemungkinan akan diisi Massimmo Ambrosini dan Daniele De Rossi. Sementara Simone Perrotta masih labil karena belum sembuh total dari cederanya. Dalam pertandingan kali ini, saya yakin Spanyol menang dengan skor tipis. Spanyol lolos ke semifinal!

So, what about the final? Pertempuran antara favorit juara Portugal melawan tim kejutan Kroasia akan mengawali dua laga semifinal. Diatas kertas Portugal lebih unggul, namun Kroasia bukanlah tim semenjana yang mudah ditaklukkan. Kejeniusan Felipao akan menghadapi darah muda Slaven Bilic yang menggebu-gebu. Kroasia penuh dengan kejutan, namun mental mereka tidak cukup kuat menghadapi Portugal. Portugal unggul tipis dan peluang Cristiano Ronaldo untuk menjadi pemain terbaik dunia tahun ini kian terbuka. Portugal lolos ke final!

Semifinal kedua akan mempertemukan dua tim dengan karakter menyerang antara tim oranye Belanda melawan tim matador Spanyol. Belanda merupakan tim yang paling sempurna di Euro kali ini, saya rasa mereka akan menunjukkan superioritas mereka di partai ini. Spanyol? mereka bukannya tim yang buruk, namun tetap saja, masalah mental menghantui mereka. Catat! saya memprediksi Spanyol lolos semata-mata karena hilangnya roh permainan Italia Andrea Pirlo! Spanyol akan menyerang, namun efektivitas permainan Belanda dan gemilangnya penjaga gawang Edwin Van Der Saar akan menjadi penentu Belanda lolos ke final. Belanda tak terbendung!

Jadilah perang di stadion Ernst Happel, Vienna akan menjadi partai ulangan 16 besar piala dunia 2006 lalu antara Belanda & Portugal. Sebuah pertandingan yang menyebabkan keluarnya 4 kartu merah dan 16 kartu kuning oleh Valentin Ivanov. Siapakah yang akan berjaya selanjutnya? Tunggu cerita dari saya ^_^

Keajaiban & Elegi di Euro 2008 (Part 1)

June 13, 2008
This is their elegy
Do you know what they feel?
This is their elegy
Do you believe it’s real?
Will they hold you in their arms again?— (Leaves Eyes)

Berlin, 2006
Italia memenangkan gelar juara dunianya yang keempat kalinya selepas menaklukkan Prancis dalam drama adu penalti. Fabio Grosso menjadi pahlawan Italia saat itu dengan gol penaltinya ke gawang Barthez. Italia menang 5-3. Selain mentahbiskan kapten Fabio Cannavaro menjadi pemain terbaik dunia pada tahun yang sama, duel final itu juga menceritakan tentang kartu merah legenda sepak bola Zinedine Zidane setelah menanduk dada Materazzi.

Austria-Switzerland, June 2008
Mereka kembali bermain di ajang piala eropa 2008. Prestasi mereka empat tahun yang lalu tidak cukup membanggakan. Italia tersungkur di penyisihan grup setelah kalah bersaing dengan Swedia dan Denmark, sementara Prancis takluk di tangan sang juara Yunani lewat gol tunggal Angelos Charisteas. Di euro 2008 kali ini, mereka kembali bertemu setelah pertemuan di babak kualifikasi sebelumnya. Mereka berada di grup neraka bersama Rumania dan Belanda. Dua nama terakhir praktis tidak diunggulkan sebelumnya untuk lolos dari grup ini. Sayang, kedua tim ini bermasalah dengan cedera, terutama Cannavaro yang harus absen di Euro 2008.

Namun fakta yang terjadi justru sebaliknya. Pertandingan pembuka grup ini dihiasi dengan pertandingan “amatiran” ala Prancis dan Rumania. Pertandingan tersebut berakhir imbang tanpa gol dan mencatat rekor (bagi saya) sebagai pertandingan terburuk sepanjang hidup yang pernah saya tonton.

Drama mulai tumbuh ketika “keajaiban Bern” jilid dua berlangsung. Tarian indah oranye Belanda menyihir pasukan Azzuri Italia dan memaksa sang juara dunia itu takluk 0-3. Donadoni menjadi kambing hitam atas kegagalan pasukannya karena kesalahannya dalam memasang starting eleven. Kritikan mulai berdatangan, bahkan dari pemainnya sendiri. Catenaccio alias pertahanan grendel ala Italia yang selama ini digembor-gemborkan benar-benar hancur tak berbekas. Malam itu, saya benar-benar melihat Italia “diajari” cara bermain catenaccio yang benar oleh tim Belanda yang notabene adalah tim menyerang.

Sang juara belum menyerah, partai kedua melawan Rumania di stadion “kampung” di Zurich berusaha mereka menangkan. Tetapi mereka tetap gagal. Saya bingung dengan keputusan Donadoni untuk tetap mempertahankan Camoranesi di starting eleven karena menurut saya dia sudah habis. Mereka tertahan 1-1. Panucci dengan cepat menyamakan kedudukan setelah semenit sebelumnya Mutu memanfaatkan kecerobohan Zambrotta. Hasil seri yang sangat memojokkan Azzuri karena baru mengemas satu poin dari dua pertandingannya. Italia sendiri nyaris kalah jika Buffon tak berhasil memblok penalti Mutu. Nyanyian duka mulai terdengar sayup dari tifosi azzuri.

45 menit kemudian, “keajaiban Bern” memasuki jilid ketiganya. Setelah tiga hari sebelumnya Belanda menghajar sang juara dunia Italia dengan marjin tiga gol. Kini giliran sang finalis Prancis yang harus menanggung malu dengan marjin yang sama. Hanya saja, mungkin mereka sedikit terhibur dengan gol indah Thierry Henry. Prancis menyerah 1-4 di tangan Belanda. Stade de Suisse, di Wankdorf, Berne, benar-benar menjadi saksi bisu tarian anak-anak Marco Van Basten itu. Semua gol Belanda benar-benar tercipta sangat indah. Saya menaruh kredit pada dua gol terakhir yang di cetak Robben dan Sneijder. Gol itu menurut saya adalah yang terindah (bersama gol Sneijder ke gawang Italia) selama kejuaraan ini berlangsung (matchday 2 grup C)

Hal ini membuat Belanda memastikan diri menjadi juara grup dengan poin enam. Diikuti oleh Rumania dengan poin dua dan The 2006 Finalists masing-masing dengan poin satu. Berikut adalah skenario kelolosan Rumania, Italia, dan Belanda keperempat final:

Rumania Lolos:

  • Menang dari Belanda
  • Seri dengan Belanda dengan catatan Prancis dan Italia juga seri

Italia Lolos:

  • Menang dari Prancis dan Rumania tidak menang lawan Belanda.

Prancis Lolos:

  • Menang dari Italia dan Rumania tidak menang lawan Belanda.

Melihat skenario ini, saya bisa mengatakan bahwa di Letzigrund Stadion, Zürich akan terhembus sebuah elegi tentang kegagalan Prancis dan Italia, dua finalis piala dunia 2006 karena kemungkinan besar Belanda yang akan tampil dengan sejumlah pemain lapis keduanya takkan ngotot melawan Rumania.

Tapi diluar dari pada itu, saya benar-benar terpesona oleh tarian The Flying Dutchmen. Satu frasa buat mereka Dahsyat Betul !!!

Pertanyaannya, sejauh manakah mereka bisa bertahan???

Italia should miss Mussolini, not Cannavaro

June 10, 2008

Stade de Suisse, Wankdrof, Bern
9th June 2008. 08:45 P:M

Well, sebelumnya saya mengucapkan turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas hancurnya tembok kokoh catenaccio ala Italia. Saya sampaikan bagi mereka yang mengklaim dirinya adalah seorang “Tifosi Azzuri sampai mati”, masih banyak jalan menuju Vienna. Meskipun tiketnya mahal gara-gara avtur naik., hahaha…

var curDiv = document.getElementById(‘ln0′); curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML); var links = curDiv.getElementsByTagName(‘a’); for(var i = links.length; i >= 0; –i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
Entah saya bingung kenapa saya bisa melihat Italia dengan pertahanan ala Indonesia di partai pembuka mereka di Euro 2008. That’s “beyond” my expectation. Setahu saya, barisan belakang Italia takkan pernah membiarkan Sneijder, Nistelrooy, dan Van der Vaart begitu merajalela untuk mengobrak-abrik pertahanan mereka.

var curDiv = document.getElementById(‘ln1′); curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML); var links = curDiv.getElementsByTagName(‘a’); for(var i = links.length; i >= 0; –i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
Diluar gol off-side Nistelrooy, Italia tampil dengan pertahanan ala Indonesia di ajang pra piala dunia. Tak ada lagi catenaccio di Italia. Saya setuju apa kata Bung Towel tadi malam. Italia tak bermain seperti Italia. mereka bermain dengan format 4-3-3 ala Belanda. Tapi sayang, itu semua berantakan karena Italia tidak memiliki penyerang sayap sekelas Lionel Messi ataupun Cristiano Ronaldo. Ya, 4-3-3 itu sangat butuh kecepatan dan kreativitas dan itu sangat bertolak belakang dengan kultur sepak bola Italia. Justru Belanda tampil brilian dengan formasi 4-2-3-1. Merekalah yang memainkan catenaccio Italia dan seolah justru Belanda telah mengajarkan bagaimana cara bermain catenaccio yang baik dan benar.

var curDiv = document.getElementById(‘ln2′); curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML); var links = curDiv.getElementsByTagName(‘a’); for(var i = links.length; i >= 0; –i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
Saya juga menyoroti penampilan Materazzi. Saya pikir dia adalah kartu mati Italia. Bagi saya, tak ada kelebihan Matrix selain bisa mencetak gol dari tendangan pojok. Itulah yang selama ini menutupi kekurangannya. Matrix adalah bek kelas 3 eropa yang seharusnya hanya bermain di klub sekelas Birmingham. Dan itu terbukti tadi malam. Dia kewalahan menjaga gerakan Nistelrooy dan seringkali kehilangan posisi karena kebingungan.

var curDiv = document.getElementById(‘ln3′); curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML); var links = curDiv.getElementsByTagName(‘a’); for(var i = links.length; i >= 0; –i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
var curDiv = document.getElementById(‘ln6′); curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML); var links = curDiv.getElementsByTagName(‘a’); for(var i = links.length; i >= 0; –i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
Saya harap Italia bisa menang lawan Rumania karena Euro nggak bakalan seru tanpa tokoh antagonis yang menyebalkan seperti mereka. Well, ngomong-ngomong Euro akhirnya “dimulai” jam 1 malam tadi setelah lima pertandingan amatiran yang lebih pantas disebut partai tambahan. Menurut saya, Italia tidak usah merindukan Fabio Cannavaro karena meski dia sembuh, mungkin tak akan banyak menolong. Mungkin alangkah baiknya jika mereka merindukan Benito Mussolini yang akan membunuh semua keluarga pemain Italia jika Italia tak juara di Euro seperti apa yang ia lakukan di Piala Dunia Italia 1934.

Anyway, Euro 2008 akhirnya “dimulai” jam 1 malam tadi setelah empat “partai tambahan” dan sebuah pertunjukkan sepak bola kampung dan amatiran antara Prancis dan Rumania. Tapi tetap saja, INGGRIS NGGAK LOLOS !!!

var curDiv = document.getElementById(‘ln7′); curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML); var links = curDiv.getElementsByTagName(‘a’); for(var i = links.length; i >= 0; –i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
—Glory Glory Man United—

Wilkommen Euro 2008 — "Ngesot" Dari Basel Menuju Vienna, Juni 2008

June 2, 2008

Semula banyak orang berekspektasi bahwa perjalanan dari Basel, salah satu kota di dekat sungai Rhine di negeri seribu bank, Swiss menuju kota terpadat kesepulih di Uni Eropa yaitu Vienna akan menjadi puncak bagaimana sepak bola akan menjadi sebuah mega-industri di dunia yang mampu memutar uang hingga mencapai jutaan atau bahkan puluhan juta euro dalam sebulannya. Saya sendiri dua tahun yang lalu, beberapa menit setelah tendangan penalti kontroversial Fransesco Totti ke gawang Australia di perdelapan final piala dunia di Kaiserslautern dua tahun yang lalu, sudah menyadari itu. Bayangkan saja, turnament sekelas Liga Champions eropa saja yang notabene digelar setahun sekali disinyalir memutar uang sebesar 50 juta euro lebih!

Tapi sayang, saya lihat promosi Euro 2008 ini sangat jauh dari sebuah promosi mega industri yang telah saya impikan dua tahun yang lalu. sebuah lembaga survey pemasaran di eropa hanya menyebut bahwa “brand awareness” masyarakat eropa terhadap penyelenggaraan Euro 2008 sebulan lalu, hanyalah sebesar 69.85 persen. Hal ini sangat jauh jika dibandingkan dengan Piala Dunia 2006 di Jerman lalu yang sudah berada di level 86,73 persen atau euro 2004 lalu dimana sebulan sebelum penyelenggaraan, level brand awareness sudah berada di kisaran 81,26 persen!

Ada beberapa hal yang menyebabkan hal ini terjadi. Saya melihat ada dua faktor penting yang mungkin menyebabkan promosi Euro 2008 terasa garing:

  1. Swiss sebagai negara penyelenggara memang tidak memiliki budaya yang antusias terhadap sesuatu. Mereka biasa menyambut hal-hal yang besar dengan seadanya saja. Bahkan seorang teman di Lausanne, Swiss membenarkan suatu kondisi dimana rakyat Swiss tidak mengidolai seorang public figure sehisteris masyarakat Asia Timur, terutama Jepang! Begitu pula Austria, negeri ini tidak memiliki sejarah bagus di dunia sepakbola karena mereka baru kali ini bermain di putaran final piala Eropa, Itu pun karena tuan rumah!
  2. Tidak Lolosnya Inggris ke Euro 2008! Well, suka nggak suka, tim Inggris saat ini adalah ekuitas merk terkuat di dunia. mulai dari cara hidup mereka yang glamor, prestasi klub mereka di Liga Champions dalam kurun waktu empat tahun terakhir, dsb. Siapa menyangsikan kepopuleran Beckham, Terry, Rooney, Gerrard, Ferdinand, dan banyak lagi. Bahkan menurut saya, secara obyektif, mereka masih lebih populer secara merk dibandingkan sang juara dunia 2006 Italia. Keberadaan Cristiano Ronaldo di timnas Portugal pun ternyata tidak cukup memberikan exposure kepada perhelatan terakbar sepak bola eropa ini. Selain itu, Inggris juga dikenal dengan kelakukan Hooligan-Hooligannya yang “lucu-lucu” dan “eye-catching“. Coba aja kalo anda melihat sindikat bapak-bapak yang bertelanjang badan dan menggunakan celana pendek selutut, perutnya buncit, badannya gendut, kulitnya merah kalo kena panas, dan hobi menenggak minuman–yang biasa disebut orang islam sebagai Khmer, dan menyanyikan lagu-lagu “Lions of the gold Generation”. Itulah Hooligan Inggris!
Yah itulah sekiranya hipotesa saya terhadap “ketidak berhasilan” promosi Euro 2008. Jika anda tak percaya, silakan anda melakukan riset tersendiri dengan pemicu diatas dengan bimbingan ex-dosan MRB saya yang paling ganteng yaitu Bpk Rachmadi Agus Triono :P

Tapi paling nggak saya tetap berharap, tanpa Inggris, Euro 2008 tetap akan menjadi proyek pemutaran uang yang prospektif, sehingga hal ini bisa dijadikan tolok ukur untuk penyelenggaraan Euro selanjutnya. Pertanyaannya, siapkah anda berinvestasi di proyek Euro 2012 di Polandia-Ukraina dalam bentuk apapun?

KOeboeran BERsama, 1:07 AM 6/3/2008
Salam,

NB: Gue Pegang Portugal Jadi Juara Euro 2008!!!

Mengapa Kita Harus Memuja Setan?

January 17, 2008

Sumber dari gambar yang dipakai dalam postingan ini sengaja tak dicantumkan karena bisa dilihat langsung dari URL masing-masing gambar

Setan adalah sesosok makhluk yang tercipta dari api. Dia sebelumnya berada di surga, namun karena dia tidak mau bersujud kepada Adam, maka diusirlah dia kemuka bumi dan di takdirkan untuk menggoda manusia sampai kiamat. Begitulah singkatnya. Tapi saya nggak memuja setan yang itu, melainkan yang setan yang berwarna merah saja. setan

Saya pertama kali memuja para setan tersebut setelah melihat mereka tampil kesetanan menghadapi Wimbledon di Theater of Hell. Ketika itu, saya masih berusia 10 tahun dan merupakan pecinta sepakbola menyerang. Pertandingan itu juga diwarnai oleh sentuhan gol indah David Beckham dari tengah lapangan pertandingan. Sejak itu, saya menahbiskan diri menjadi pemuja setan.

Setan akan selalu menang. Begitulah saya memberi statement soal setan merah. Mereka bermain dengan taktis dan stratejik, sesuai dengan arahan pelatih Sir Alex Ferguson. Puncaknya adalah treble winner di tahun 1999 yang diwarnai oleh fantastic comeback di final Liga Champions di Nou Camp menghadapi Bayern Muenchen. Dengan kualitas serangan yang dahsyat plus kolaborasi pemain-pemain berkualitas antara tua dan muda arahan Opa Fergie telah menghasilkan 9 titel juara liga (sampai saat tenggat waktu penulisan artikel ini)

Intinya adalah kualitas serangan United. Memang, banyak klub yang bisa melakukannya, tapi United memberikan sentuhan yang berbeda. Glory-Glory Man United !!!.

MARI KITA PUJA PARA SETAN !!!



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.